Langsung ke konten utama

Review Buku

Review buku
“FILSAFAT SAINS MENURUT AL-QUR’AN”
Oleh: Putri Nur Safitri
Program Studi Tarjamah UIN Syarif Hidayatullah

A. Informasi tentang buku
1. Tentang pengarang
     Prof. Mahdi golshani lahir di isfahana, Iran pada 1939. Setelah menyelesaikan S1 di bidang fisika di Universitas Teheran. Ia melanjutkan ke Universitas Carolina, Berkeley dan memperoleh gelar doktornya pada 1969, dengan spesialisasi di bidang fisika partikel. Sejak 1970 ia mengajar fisika di Universitas Teknologi Syarif, Taheran yang sempat menjadi ketua jutusan disana. Atas inisiatifnya, Universitas itu pada 1995mendirikan jurusan filsafat sains dan ia menjadi ketuanya. Saat ini ia menjabat sebagai direktur pada institut kajian Humaniora dan Budaya di Iran.
    Pada 1998, ia termasuk dari sedikit ilmuan muslim yang di undang untuk berbicara pada konferensi “ Science and Spiritual Quest” di Berkeley. Sejak itu, ia kerap berbicara di forum internasional mengenai islam dan sains. Sebelumnya pada tahun 1995 ia pernah menerima Hadiah Templeton untuk Program mata kuliah sains dan agama. Semua aktivitas ini tidak menghilangkan dirinya dari riset-riset di bidang fisika yang hingga kini masih aktif ditekuninya. Pengarang buku ini adalah seorangpakar Al - Qur’an dan menguasai bidang yang dibahasnya  yaitu sains.
2. Gambaran buku secara umum
Filsafat islam menurut Al -Qur’an adalah karangan Dr. Mehdi Golshani yang di terbitkan oleh Mizan. Buku setebal 163 halaman diterjemahkan oleh Agus Effendi dan disunting oleh Zainal Abidin. Buku ini edisi ke dua dari buku yang diterbitkan pertama kali pada 1986 dan diterjemahkan ke bahasa indonesia pertama kali pada 1988. Dan pernah dicetak ulang sebanyak dua belas kali. Buku filsafat sains menurut Al -Qur’an adalah terjemahan bahasa indonesia, judul aslinya adalah The holy Qur’an and The Science of Nature. Tserdiri dari empat Bab dalam setiap halamannya dan juga terdapat kutipan Al - Qur’an ataupun hadist.
  1. Isi pokok buku
Al-Ghajali mengklasifikasikan “ilmu agama” dalam dua kelompok yaitu terpuji (mahmud) da tercela (madzmum). Yang dimaksud dengan ilmu agama yang tercela adalah yang tampaknya terarahkan pada syariah. Tetapi nyatanya menyimpang dari ajaran-ajarannya. Selanjutnya ilmu agama yang terpuji diklasifikasikan dalam empat kelompok:
1.  Ushul (dasar-dasar:Al-Qur’an, Asunah, ijma atau konsesus atau kebiasaan para sahabat nabi)
2.   Furu’ (masalah-masalah cabang atau sekunder : masalah fiqih, etika, dan pengalaman mistik)
3.   Studi-studi pengantar (qaidah, bahasa arab)
4. Studi-studi pelengkap (membaca dan menerjemahkan Al-Qur’an, mempelajari masalah-masalah fiqih dll)
Kriteria ilmu yang berguna dapat diklasifikasikan menjadi:

1. Seluruh ilmu baik ilmu teologi maupun ilmu kealaman merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan selama memerankan peran ini maka ilmu itu dianggap suci. Akan tetapi ilmu ini tidak intrinsik sebagaimana dipaparkan oleh  Dr. Bahesyti : “setiap bidang ilmu selama tidak menjadi alat ditangan taghut (anti Allah), merupakan alat penceraha, jika tidak ilmu bisa jadi alat kesesatan”.

2. Dalam perpektif ini, aneka ragam pengetahuan tidak asing satu sama lain, karna pada masing-masing jalannya sendiri. Sebagaimana Syaikh Mahmud Syabistari, seorang penyair bijak mengatakan:
Kepadanyalah yang tercerahkan hatinya,
Seluruh alam adalah buku suci milik yang maha agung,
Setiap cakrawala adalah bab-bab yang berbeda
Yang satu Al-Fatihah Yang lain Al-Iklas.
Di zaman sekarang negara-negara islam berada dibawah pengaruh orang kafir, kaum Muslim memikul tanggung jawab besar di  pundak mereka. Sebagaimana diterangkan dalam ayat dibawah ini:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa raja yang kamu sanggupi dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang”.
Sesuai dengan ayat diatas, kaum muslim harus mempersiapkan dan memperalatin mereka dalam segala masalah dan ilmu empiris saat ini memiliki peran penting dalam segala aspek materil, maka memperkuat ilmu keislaman merupakan suatu keharusan. Pada sisi lain, agar dapat meraih kesuksesan kebangkitan sains dalam kebijaksanaan islam, beberapa masalah penting harus diperhatikan:
Kaum Muslim perlu mempelajari sains dan teknologi dari negara-negara maju dalam bidang ini. Ini bukanlah hal yang tercela, sebagimana sabda Rasullah SAW:
“Carilah ilmu walau ke negeri Cina”

“Hikmah kearifan itu kepunyaan orang mukmin yang hilang , dimana saja ia mendapatkannya, ia lebih berhak memilikinya”.

“Ambilah ilmu dari apa yang dikatakan orang-orang”
‘Ali Bin Abi thalib mengatakan:
“Dianjurkan bagi orang-orang yang berakal untuk menambahkan pendapat orang bijak lainnya kepada pendapatnya, dan menambah ilmu para bijak kepada ilmunya”. Juga, “ilmu adalah harta mukmin yang hilang, maka ambilah sekalipun dari tangan-tangan orang musrik”.
  1. Kelemahan Buku
a.                   Buku ini hanya terdiri dari empat bab dan dalam setiap halamannya terdapat kutipan ayat Al-Qur’an dan hadis yang diikuti oleh kesimpulan-kesimpulan penulisnya, akan tetapi argumentasi Golshani tampak amat ringkas.
b.                  Banyak pendapat yang dilontarkan penulis dalam menanggapi permasalahan yang berkaitan dengan sains modern ,seperti tentang eksploitasi sumberdaya alam untuk dijadikan teknologi mutakhir, namun sangat disayangkan pendapat tersebut kurang diperkuat dengan fakta yang mendukung pendapat penulis tersebut.
c.                   Bahasa yang digunakan dalam buku ini terlalu bertele-tele dan kurang sekali penjelasan dari penulis tentang suatu hal yang diangkat, secara umum penulis hanya mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah sains tanpa dibarengi penjelasan yang real.
d.                  Dalam buku ini pula belum terlalu dibahas secara mendalam tentang pertentangan umat Islam dalam mengintegrasikan Islam dan sains, disini penulis hanya memaparkan masalah tersebut secara sederhana.
e.                   Dalam buku ini juga tidak dibahas perjalanan sains Islam dari masa ke masa, sehingga pembaca sedikit mengalami kesulitan dalam memaknai kisah-kisah yang dikutip penulis dari ulama-ulama terdahulu.

  1. Kelebihan Buku
a. Bahasa yang digunakan penulis cukup berfariasi, namun mudah untuk difahami sehingga pembaca dengan mudah mampu untuk mendalami isi buku.

b. Buku ini sangat bagus karena mampu mengaitkan sains modern dengan sumber hukum Islam yaitu Al-Quran dan sunah, sehingga mampu mempertebal keimanan bagi pembacanya.
c. Setiap sumber rujukan yang digunakan oleh penulis tertulis dengan jelas, sehingga pembaca tidak merasa rancu dalam mendalami isi buku.

dBuku ini secara sistematis membahas konsep Islam tentang ilmu dan secara langsung meletakannya dalam konteks sains modern yang digeluti penulis, yaitu tentang filsafat sains.
e. Buku ini memberikan landasan normatif kepada para penulis selanjutnya yang akan membahas tentang Islam dan Sains.

f. Dalam buku ini pengarang berusaha keras untuk menunjukan bahwa ilmu-ilmu alam yang saat ini dunia Muslim hanya menjadi konsumennya adalah semata-mata adalah tugas penting, sedemikian penting hingga menggeluti sains adalah tugas keagamaan Muslim yang merupakan suatu bentuk ibadah.

g. Buku ini memaparkan fungsi sains bukan hanya dalam hal praktisnya, dalam membangun Dunia Muslim yang sebagian besarnya masih amat terbelakang, juga peranannya membawa sang ilmuan kepada Penciptanya.

h. Sikap inklusif Golsani yaitu sikap yang tak menolak sains modern, yang dianggapnya cukup Islami untuk digeluti. Penegasan ini penting, terutama ketika sebagian uslim memahami gagasan islamisasi sains yang melibatkan upaya penolakan sains modern, sebagai penolakan dari “imperialisme budaya barat” di dunia Islam.


i. Dalam buku ini penulis mencoba memberikan pendapatnya sebagai jalan keluar dari perbedaan faham diantara umat Islam tentang islamisasi sains islam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu mahasiswa?

Apa itu Mahasiswa? Oleh: Sirajudin Mahasiswa merupak sosok yang ditunggu oleh bangsa ini, sosok yang mempunyai semangat juang yag tinggi, sosok yang menjadi pahlawan di tengah-tengah kericuhan negeri ini. Dengan itu sebutan mahasiswa merupakan sebuah sebutan yang emas di masyarakat karna mahasiswalah yang paling utama merespon terhadap peristwa dan memberikan solusi dari peristwa tersebut. Melihat keadaan negeri tercinta ini semakin memburuk maka di sinilah peran mahasisw yang paling penting untuk memberikan ide-ide cemerlang untuk negeri ini, untuk menjadi agen perubahan, untuk menjadi pahlawan negeri ini, untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Lantas apa yang kita lakukan sebagai mahasiswa untuk negeri ini.?ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk negeri ini. Yang pertama hilangkan permusuhan karna perbedaan diantara kita. Ini adalah masalah yang sering terjadi diantara mahasiswa yaitu merasa paling benar dan menganggap orang lain salah, padahal kita hidup b...

Islam Masa Depan

                        “Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam” Oleh: Sirajudin Pengantar Dinamika Kebangkitan Islam dan Krisis Peradaban Terlihat dalam buku Dawam Rahadjo ini bagaimana mengkritik perkembangan dunia Islam. ditata dengan semenarik mungkin diawali dengan pembahasan Krisis Peradaban Islam hinga dipenghujungnya memberikan solusi dalam setiap permasalahan. Wacana mengenai kebangkitan islam sebenarnya sudah terlihat dari dulu, hanya saja wacana itu hanya sebatas teori yang sampai saat ini belum terlihat kebangkitan Islam itu sendiri. Masyarakat Islam harus menyadari ketertinggalanya atas kebangkitan islam. Isu-isu mengenai kebangkitan islam marak dikalangan umat islam sebagai wacana belaka. Menurut Dawam Jika peradaban islam dalam arena kemasyarakatan dan seni budaya itu telah mengalami krisis, maka di bidang ilmu pengetahuan dan teknolog...

katanya waktu itu mahal

Waktu Terlalu Berharga Untuk Disiasiakan   Sirajudin / Tarjamah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Apa yang sudah kita siapkan untuk masa depan nanti ? A pakah kita sudah siap  takala kematian itu datang menjemput kita ? Apakah kita sudah menyiapkan bekal untuk masa depan? tak pernah kita sadari bahwa sungguh kematian itu datang dari arah yang tak di sangka-sangka dan dia datang tidak mengenal apa yang sedang kita lakuakan. Sungguh kita terlena dengan pertanyaan itu semua. Kita menganggapnya itu adalah masalah yang kecil padahal itu adalah masalah yang besar. Sungguh kita terlena dengan dunia yang fana ini dengan isinya. Y ang tak pernah kita sadari bahwa itu semua adalah sementara. Kita hidup di dunia ini seperti hal nya kita mampir di suatu tempat ketika dalam perjalanan jauh hanyalah mampir sebentar . Apa yang engkau banggakan ketika engkau berada di dunia yang hina ini.? B ukankah engkau melihat orang yang m eninggal tidak membawa apa-apa melainkan hanyala...