”PRINSIP KERJA
SAMA DALAM BERKOMUNIKASI YANG BAIK”
Sirajudin
Siraj.sr8@gmail.com
Abstrak- Bahasa merupakan sesuatu yang patut disyukuri dalam
hidup. Kenapa tidak karna bahasa merupakan alat yang terpenting dalam hidup
bersosial. Tampa bahasa kehidupan tak terasa hidup. Bahasa adalah Alat
komunikasi antar manusia yang menghubungkan satu sama lain dengan mudah. Dengan
adanya bahasa maka lahirlah sesuatu yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari,
sehingga bahasa mencangkup dan mengkaji seluruh aspek kehidupan manusia.
Bahasa
tidak hanya mengkaji secara internal seperti mengenai bentuk, makna, struktur,
fungsi, dan variasi bahasa itu sendiri. Akan tetapi, bahasa juga mengkaji
secara eksternal, yang merupakan faktor terpenting ketika bahasa mencakup
kehidupan sosial, dan juga penerapan ilmu linguistik untuk kepentingan
masyarakat dan juga yang berkaitan dengan pemakaian bahasa itu oleh para
penuturnya di dalam kelompok-kelompok sosial kemasyarakatan.Kajian bahasa
secara eksternal tidak lain dari pada segala hal yang berkaitan dengan kegiatan
manusia di dalam masyarakat.
Kata kunci: Prinsip kerja sama, komunikasi baik.
I
PENDAHULUAN
Linguistik
atau yang dikenal juga dengan ilmubahasa adalah sebuah disiplin ilmu. Ini
terjadi karena objek linguistik itu, yaitu bahasa, memang mempunyai cangkupan
yang sangat luas di dalam kehidupan manusia. apalagi yang berkaitan dengansosialinguistik.
Yaitu cabang dari ilmu linguistikyang mempelajari bahasa dalam hubungan
pemakaianya dengan masyarakat. Sosialinguistik lazim didefinasikan sebagai ilmu
yang mempelajari ciri dan berbagai variasi
bahasa, serta hubungan di antara bahasawan denganciri fungsi variasi
bahasa itu di dalam suatu masyarakat bahasa (Kridalaksana 1984:94).
Pertama-tama
pengetahuan sosialinguistik dapat kita manfaatkan dalam berkomunikasi atau
berinteraksi. Sosialinguistik akan memberikan pedoman kepada kita dalam
berkomunikasi dengan menunjukan bahasa, ragam bahasa, atau gaya bahasa yang apa
yang harus kita gunakan jika kita berbicara dengan orang tertentu. Jika kita
seorang anak dalam suatu keluarga, tetntu kita harus menggunakan ragam/gaya
bahasa yang berbeda jika lawan bicara kita adalah ayah, ibu, kakak, adek. Jika
kita seorang murid, tentu kita harus menggunakan ragam/gaya bahasa yang berbeda
juga ketika kita berbicara dengan seorang guru, dan teman kelas.
Dalam suatu
interaksi tentu kita akan menginginkan komunikasi yang baik untuk mencapai
hasil yang sempurana dan pesan yang tersampaikan. Dibutuhkan bahasa yang tepat
untuk mencapai hasil tersebut. disinilah sosialinguistik berperan yang menjadi
objek sosial seseorang dalam berkomunikasi dengan yang lain.
Setiap makhluk mempunya cara berkomunikasi masing-masing, setiap
manusia pun tidak lepas dari cara dia melakukan
komunikasi. Kita tak bisa membeda-bedakan bahasa, suku, adat, kebiasaan,
tradisi maupun agama karena pada dasarnya berkomunikasi, menyampaikan pesan.
II
PEMBAHASAN
A. Prinsip Kerja Sama
Prinsip kerja sama adalah kaidah-kaidah yang harus di taati
oleh penutur agar percakapan berjalan dengan lancar. Kaidah ini menghubungkan
antara penutur dengan mitra tutur. Ada empat maksim yang terkandung dalam
peinsip kerja sama untuk mencapai komunikasi yang baik.
Maksim adalah prinsip yang harus ditaati oleh peserta
pertuturan dalam berinteraksi, baik secara tekstual maupun interpersonal dalam
upaya melancarkan jalanya proses komunikasi. Ada maksim kuantitas, kualitas,
relevansi, cara.
Pertama, maksim kuantitas. Yang mengharuskan
penutur memberikan kontribusi yang secukupnya kepada mitra tuturnya. Ada
batasan dalam maksim ini dalam mengukapkan informasi, biasa disebut pembatas (hedge).
Contoh: apa yang dikemukakan Ibrahim,
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya
Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang
mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab:
"Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan
imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung,
lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas
tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah
mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah
bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Kedua,
maksim kualitas.
Yang mengharuskan peserta percakapan mengatakan hal sebenarnaya (jujur). Saat
penutur ragu kita bisa menggunakan ungkapan ‘konon’, ‘jika saya tidak salah’.
Dan lainya. Contoh: yang dikemukan dalam
kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya, ketika mereka mencerikatan kepada
ayahnya bahwa yusuf telah dimakan oleh srigala.
Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi
berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia
dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami,
sekalipun kami adalah orang-orang yang benar".
Ketiga, maksim relevansi. Yang mengharuskan
peserta percakapan memberikan kontribusi relevan dengan siruasi penuturan.
Topik-topik yang berbeda di dalam sebuah percakapan dapat menjadi relevan jika
mempunyai kaitan. Contoh: terdapat juga dalam kisah Nabi Isa dan pengikutnya.
(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata:
"Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit
kepada kami?". Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu
betul-betul orang yang beriman".
Jawaban Isa demikian menunjukan bahwa ia memahami
topik yang dimaksud para pengikutnya dan menganggap permintaan itu tudak patut
sehingga meminta mereka untuk bertaqwa.
Keempat, maksim cara. Yang mengharuskan peserta percakapan
berbicara langsung dan lugas serta tidak berlebihan. Di dalam maksim ini,
penutur juga harus menafsirkan konteks pemakianya. Ada kalannya kelugasan tidak
selalu bermanfaat didalam interaksi verbal, karenanya di gunakan pembatas
ungkapan ‘menurut saya’. Pesan yang disampaikan akan menimbulkan kesan yang
janggal jika informasi yang diberikan berlebihan, tidak benar, tidak relevan, atau
berbelit-belit. Contoh dalam surat Al-baqarah yang dilakukan orang yahudi
merespon perintah Allah,
Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu
untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu".
Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah
sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".
III
KESIMPULAN
1. Prinsip kerja sama adalah kaidah-kaidah yang harus di
taati oleh penutur agar percakapan berjalan dengan lancar. Kaidah ini
menghubungkan antara penutur dengan mitra tutur.
2. Ada empat maksim yang
diperlukanUntuk mencapai komunikasi yang baik. Maksim kuantitas, kualitas,
relevansi, cara.
III
REFRENSI
Hidayatullah, Syarif,
2017, Cakeawala Linguistik Arab, Jakarta: PT Grasindo.
Chaer, Abdul, 2014, Lunguistik
Umum, Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul, 2011, Tata
Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul, dan
Agustina, Leonie, 2014, Sosialinguistik Pengenalan Awal, Jakarta: Rineka
Cipta.
Verhaar, J.W.M, 1990, Pengantar
Linguitik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Komentar