“Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam”
Pengantar
Dinamika Kebangkitan Islam dan Krisis Peradaban
Terlihat dalam buku Dawam Rahadjo ini bagaimana mengkritik
perkembangan dunia Islam. ditata dengan semenarik mungkin diawali dengan
pembahasan Krisis Peradaban Islam hinga dipenghujungnya memberikan solusi dalam
setiap permasalahan. Wacana mengenai kebangkitan islam sebenarnya sudah
terlihat dari dulu, hanya saja wacana itu hanya sebatas teori yang sampai saat
ini belum terlihat kebangkitan Islam itu sendiri.
Masyarakat Islam harus menyadari ketertinggalanya atas kebangkitan
islam. Isu-isu mengenai kebangkitan islam marak dikalangan umat islam sebagai
wacana belaka. Menurut Dawam Jika peradaban islam dalam arena kemasyarakatan
dan seni budaya itu telah mengalami krisis, maka di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi pun peradaban islam mengahdapi jalan buntu. Sebab, hambatan dalam
kebebasan yang sangat diperlukan oleh kerja kreatif dn inofatif.[1]
Dalam tulisan ini saya mencoba mengulas pikiran-pikiran Dawam
Rahardjo dalam bukunya “Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam”.
Menarik bagi saya ketika saya mengulas kembali pikiran-pikiran Dawam terkait
kritikannya mengenai kebangkitan Islam. Saya berkeyakinan bahwa Dawam merupakan seorang penggerak dalam hal
kebangkitan islam. Beiau, lahir di Solo, 20 April 1942, menduduki jenjang
pendidikan SD hingga SMA di Kota Solo.
Menyelesaikan Sarjana S1 Borah High School Amerika, S2 Universitas Gajah Mada
Yogyakarta, S3 Instute Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Rektor
di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta hinga sekarang, juga presiden IIIT
Indonesia hinga sekarang, Ketua ICMI hingga sekarang. Karya-karya beliau
diantaranya Perspektif Deklarasi Mekkah Menuu Ekonomi Islam (1995), Intelektual
Intelegensia dan perilaku Politik Bangsa Risalah Cendekiawan Muslim (1993),
Ensiklpedi Al-quran: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci (1996),
Tantangan Indnesia Sebagai Bangsa, Esay-Esay Kritis Tentang Ekonomi, Sosial
dan Politik (1999), Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah dan
Perubahan Sosial (1999), Paradigma Al-quran Metodelogi Tafsir dan Kritik
Sosial (2005), Merayakan Kemajemukan, Kebebasan dan Kebangsaan (2010),
Ekonomi Neo-Klasik dan Nasionalisme Reigius (2011)
Kritik Nalar Islamisme
Saya kira dalam bab ini Dawam mengungkapkan kritiknya terhadap
konsep-konsep nalar kritis. Karna dalam bab ini Dawam mengarahkan dalam
beberapa ranah, yakni: kritik nalar ideologi islam, politik islam, ekonomi
islam, epistomologi islam, kebangkitan islam, dan budaya islam.
Pertama, kritik nalar
ideologi. Dawam mengungkapkan bahwa gagasan mengenai ideologi mulai muncul di
Eropa Barat dan Amerika Utara sejak abad ke-18 dan memuncak pada abad ke-19,
sehingga abad itu disebut sebagai Abad Ideologi (The Age of Ideologi).
Namun, hingga awal abad ke-20, dunia islam belum mengenal konsep ideologi.[2]
Dawam juga mengungkapkan bahwa gagasan mengenai ideologi islamisme dari gerakan
islam sendiri mulai muncul pada belahan kedua dasawarsa 1930-an. Tetapi wacana
itu terbentuk negatif, yaitu dalam melawan gagasan sekularisme yang dirawarkan
oleh soekarno.[3]
Inilah kenapa khususnya di indonesia ketika berbicara ideologi maka
umat islam memecah belahkan ideologi masing-masing. Sehingga, satu sama lain
saling merasa benar dan menganggap selainnya itu salah. Muncul perpecahan umat
kebanyakan karna idelogi yang berbeda. Maka tidak heran ketika kita melihat
realita di indonesia umat islam masih berbicara tentang ideologi dan itu
diperdebatkan. Jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah
berkembang diberbagai aspek. Dawam membagi dua mengenai ideologi. Pertama,ideologi
yang bersifat universal dan berlaku di segala waktu dan tempat, misalnya
sosialisme, kapitalisme, dan demokrasi. Kedua adalah ideologi yang diberlakukan
oleh suatu bangsa tertentu.[4]
Kedua, kritik nalar
politik islam. Banyak yang mengatakan bahwa islam tidak boleh ikut campur dalam
urusan negara termasuk politik. Ini salah, islam sebagai agama rahmatan
lilalamiin mengatur segala urusan yang berbau ibadat, muamalat, fikih, tasafus,
pendidikan maupun dalam urusan negara dan politik. Maka fatal jadinya ketka
agama tidak dilibatkan ke dalam urusan negara dan politik. Karna islam mengatur
itu semua.
Menurut Dawam wacana politik islam di indonesia dalam bingkai islamisme
atau fundamentalisme sebenranya baru dimulai pada bagisan kedua dasawarsa
1930-an, ketika terjadi polemik antara Soekarno di satu pihak, menawarkan
gagasan sekularisme dengan mengambil contoh Turki yang sudah lebih dari satu
dasawarsa telah mneghapus kekhalifahan dunia islam dan di ganti dengan model
negara sekuler, dengan para penentangnya di lain pihak. Gagasan itu di tentang
oleh dua pemimpin islam guru dan murid, yaitu: Ust. A. Hasan dan Muhammad
Natsir.[5]
Dawam juga menambahkan bahwa persoalan yang terkandung dalam
gerakan politik islam sebenarnya terletak pada pemahaman ideologi politik yang
coraknya tradisional dan tidak mencerminkan kemajuan berpikir sesuai dengan
kemajuan zaman.[6]
Berbeda dengan Saiful Mujani yang juga mengatakan bahwa nilai-nilai islamis
belum mampu diterjemahkan dalm kekuatan gerakan sosial dan organisasi politik
di indonesia. Artinya sekularisme semakin mendapat tempat dan merasuk dalam
kesadaran umat islam.[7]
Menurut Dawam sekularisme dan sekulariasi adalah kunci pemecahan
masalah kegagalan politik islam dalam menemukan formanya yang sejalan dengan
gagasan kebangsaan dan demokrasi di dunia
modern. Namun harus diingat bahwa sekularisasi bukan berarti
marjinalisasi peranan agama di arena publik maupun dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat sebagaiman yang terjadi di Amerika. Sekularisasi justru membuka
jalan bagi peranan agama yang bermanfaat di arena publik dan menjamin
berlangsungnya kehidupan beragama secar bebas dan dami bagi setiap agama
berdasarkan ha-hak asasi manusia. Di sini sekularisme adalah diferensiasi
antara wilayah iman dan ilmu pengetahuan, serta antara agama dan politik atau
agama dan negara.[8]
Ketiga, kritik nalar
ekonomi islam. Dawam menambahkan Pengertian ekonomi disebut dengan istilah al-iqtishad,
penggunaan istilah itu juga dilakukan oleh Abdullah Abd al-husein al-Tariki
dalam buku yang telah di terjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan judul Ekonomi
Islam: prinsip Dasar dan Tujuan (2004) di situ, ekonomi islam dalam
terjemahan dari kata al-iqtishad al-islami. Istilah itu artinya
kelurusan cara, keadilan atau keseimbangan. Artinya juga moderat, tidak boros
dan tidak pula kikir.[9]Dengan
demikian, al-iqtishad berarti cara yang lurus dalam pembelajaan dan
penggunaan barang yang tidak boros dan tidak pula kikir. Dalam Al-quran
terdapat petunjuk Allah agar orang itu tidak boros khususnya dalam konsumsi dan
penggunaaan sumber daya alam, karena itu semua sudah ada ukuranya.
Menurut Ahmad Fadhil Lubis sistem ekonomi pasar maupun sistem
ekonomi komando, disamping banyak memiliki banyak mazhab dan submazhabnya,
kedua sistem itu tidk ada lagi yang murni. Masing-masing telah belajar dari
kegagalan dan keberhasilan kedua belah pihak.[10]Kajian
mengenai ilmu ekonomi menurut Dawam adalah kajian ilmiah, perlu diketahui dalam
devinisi itutiga tahap proses, yaitu:(1) pokok persoalan realita dan
sejarah;(2) bagaimana cara memahami dan mempelajari persoalan serta bagaimana
pemecahanya; dan (3) hasil dan manfaat atau tujuan dari proses itu.[11]
Perubahan mindset masyarakat adalah suatu keniscayaan ketika nilai
Islam diharapkan mampu untuk dijadikan jalan hidup atau mainstream ekonomi.
Mengubah perilaku masyarakat menuju ekonomi Islam adalah target utama dalam
pengembangan sistem kelembagaan, baik individual, perusahaan, mekanisme pasar
maupun pemerintahan ataupun norma sosial.
Keempat, kritik nalar
epitomoloi islam. Dawam mengatakan baru di sekitar tahun 2000-an ini, sejumlah
sarjana agama membahasa masalah filsafat ilmu dalam sejumlah buku dan artikel
di berbagai jurnal. Sebelumnya para sarjana agama itu membahas masalaha agama.
Dalam pembahasan masalah pendidikan, mencuat isu sistem pendidikan islam yang
dualistis, yakni antara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan umum.
Sebenarnya kedua jenis ilmu itu itu telah di ajarkan di lembaga pendidikan,
termasuk di pesantren dan madrasah. Bahkan ilmu pengetahuan umum juga telah
diajarkan di Universitas Al-Azhar di Mesir.[12]
Dawam juga menambahkan bahwa kenyataan hidup menunjukan bahwa
banyak hal-hal yang tidak ada petunjuknya dalam Al-quran maupun assunah.
Misalnya masalah membangun negara, perekonomian, mengebangkan teknologi,
menciptakan karya-karya seni. Bahkan, dibidang kesenian ini malahan banyak
hambatan yang mencegah orang untuk berkarya. Misalnya dalam seni rupa, seni
lukis, seni suara dan seni teater. Dala hal yang disebut terakhir ini, hambatan
terdapat pada perempuan yang oleh pandangan fikih tertentu, suaranya saja
dihukumi sebagai bagian dari aurat. Jika orang berpedoaman pada pandangan
seperti ini, maka kesenian tidak akan berkembang.[13]
Kelima, kritik nalar
kebangkitan islam. Dawam menegaskan bahwa Janganlah bermimpi mengenai kebangkitan
Islam,jika tidak mampu memecahkan masalahkeilmuan dan pendidikan Islam.[14]
Pendidikan merupakan hal yang utama yang diajarkan dalam islam. bagaimana islam
memandang realita kehidpan yang saat ini sangat perlu dikhawatirkan. Ini salah
satu faktor dalam kebangkita islam. benar apa yang diungkapkan oleh Dawam bahwa
islam akan bangkit jika masalah pendidikan sudah diselesaikan.
Dawam menjelaskan bahwasanya Islam sebagai peradaban yang didukung
oleh agama dan ilmu pengetahuan serta teknologi, tidak berkembang sebagaimana
diharapkan. Ada beberapa faktor yang perlu dipikiran sebagai penyebebnya. Pertama
serba cukup, karena kepercayaan ajaran islam itu telah lengkap dan
sempurna, sehingga merasa tidak membutuhkan pengetahuan dari luar sebagai mana
yang di cerminkan oleh pandangan Hizbut Tahrir. Kedua ketertutupan dunia
islam yang takut kemasukan pengaruh dari luar, terutama Barat. Ketiga ketidak-beranian
menggunakan akal merdeka mengembangkan ilmu pengetahuan
dan terbelenggu semata-mata dengan teks wahyu sehingga tidak timbul pemikiran
yang kritis, kreatif dan baru.[15]
Umat islam terbelenggu dalam kejumudan atau kejahilan, tidak pernah
merasa dewasa dan tidak pernah tegar dalam berinteraksi dengan dunia luar,
karena umat islam tidak punya kesanggupanuntuk mengakui keunggulan pihak luar,
walaupun jelas-jelas lebih maju dan memimpin arah perkembangn dunia. Tapi,
diam-diam umat islam belajar juga ilmu pengetahuan teknologi dari luar, tetapi
tidak punya etos untuk mengebangkan sendiri. Karena ituDawam menegaskan agenda
kebangkitan islam dewasa ini menghadapi jalan buntu. Tetapi harapan kebangkitan
ini masih ada, yaitu melalui kebangkitan bangsa-bangsa muslim di Asia Tenggara.[16]
Keenam, kritik nalar
budaya islam. Dalam bukunya, Islam and Cultural Accommodation of Sociol
Change, Bassam Tibi, seorang intelektual Muslim Jerman keturunan Syria,
menambil pengertian tentang agama dari antropolog Indonesianis Clifford Geertz,
yang terkenal dengan bukunya The Religion of Java yang sudah menjadi
klasik itu. Baginya, agama adalah sebuah sistem kebudayaan pada sekelompok
manusia untuk memahami situasi sekelilingnya dan bertindak menurut sistem
budaya itu, (Clifford Geertz, The Religion Of Java). Jika kebudayaan
adalah suatu sistem nilai yang menghasilakan produk-produk budaya, maka
kebudayaan yang berupa sistem nilai itu adalah sumber kreativitas dan
penciptaan, sebatas kemampuan manusia yang bersangkutan.[17]
Pembangunan masyarakat dan bangsa yang dilakukan saat ini cenderung
menerapkan prinsip-prinsip paham liberalisme yang tidak sesuai dan kontradiktif
dengan nilai, budaya, dan krakter bangsa indonesia, sudah saatnya dikoreksi.
Koreksi yang dilakukan tidak harus menghentikan proses reformasi yang sudah
berjalan, tetapi dengan mencangkan revolusi mental, menciptakan paradigma,
budaya politik, dan pendekatan nation building baru yang lebih
manusiawi, sesuai dengan budaya nusantara, bersahaja dan berkesinambunngan.[18]
KEBANGKITAN ISLAM
Pertama, evolusi dan
pola kebangkitan Islam. Abad ke-14 H. dicanangkn sebagai Abad kebangkitan
Islam. pencangan itu memberi kesan bahwa wacana dan gerakan kebangkitan islam
baru di mulai Abad ke-14 H. Padahal, gejala kebangkitan islam sudah mulai
tampak pada awal Abad ke-20 M., ketika Jamaluddin al-Afghani menyerukan gagasan
pan-islamamisme. Ketika itu , ia mengambil alih kalimat Karl Marx dalam
seuanya, “Umat Islam seluruh Dunia, bersatulah.” Ia tidak secara spesifik
menyebut bentuk dan wadah persatuan itu. Namun, dari retorika dan
tindakan-tindaknya, maka dapat ditangkap bahwa yang dimaksud bersatu adalah
bersatu melawan imperialisme Barat di seluruh Dunia Islam.[19]
Dawam juga menambahkan bahwa dewasa ini, setelah perempat Abad
lebih sedikit dari abad ke-14 H yang dicanagkan sebagai abad kebangkitan islam
menuju kejayaan mondial yang unggul, seperti yang dilihatkan festifal peradaban
islam di London 1976, hingga kini belum ada tanda-tanda kebangkitannya.
Sebenarnya tanda-tanda itu sudah muncul setelah krisis minyak 1974 dan terulang
pada 1979, tapi pada dasawarsa 1980-an, dunia, termasuk dunia ketiga dan
indonesia, mengalami resensi.[20]
Kedua, kebangkitan
Islam ditinjau dari sudut kebudayaan. Dawam menjelaskan ada Enam nilai yang
dapat disebut sebagai unsur atau bidang kebudayaan yang universal (cultural
universal) adalah solidaritas dalam sistem kemasyarakatan, ilmu pengetahuan
atau teori, ekonomi, kuasa, agama dan seni. Sebenarnya masih bisa diidenfikasi
4 lagi sistem yang belum disebut oleh takdir yaitu: bahasa, teknologi, hukum,
dan militer. Namun sepuluh nilai atau bidang kebudayaan itu dapat diringkas
enam saja. Bidang hukum dan milter merupakan bagian dari bidang kuasa, bidang
teknologi dapat digabungkan dengan ilmu pengetahuan menjadi iptek, bidang
bahasa dapat digabungkan dengan Iptek dan seni atau agama, mengingat bahasa
mencerminkan bahasa mencerminkan kemampuan akal manusia dalam memahami dan
menjelaskan segala sesuatu, baik yang kongkrit maupun abstrak.[21]
Nurcholis Madjid mengatakan bahwa pemahaman umat selama ini
cenderung berorentasi akhirat dan bahkan defensif.[22]
Inilah budaya umat islam cenderung memandang ke balakang. Sehingga tidak pernah
terlintas dalam benaknya sebuah ide tentang kebangkitan Islam. kecendrungan ini
juga yang membuat dampak umat islam berpikir sempit, hanya pada satu wilayah
tidak melihat dan belajar dari wilayah yang lain.
Ketiga, Rekonstruksi
Ilmu-ilmu Keislaman dan Kebangkitan Islam. Pak Harun Nasition berpandangan
bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim terkesan berpandangan sempit.
Kesan ini timbul dari salah pengertian tentang Islam. Kekeliruan paham itu
terjadi karena kurikulum pendidikan agama yang banyak dipakai di indonesia
ditekankan kepada pengajaran ibadat, fikih, tahwid, tafsir, hadis dan bahasa
Arab. Oleh karena itu, menurut pak Harun islam di indonesia banyak dikenal hanya
dari aspek ibadat, fikih dn tahwid saja itu pun biasanya hanya diajarakan
menurut satu mazhab atau satu aliran saja.[23]
Dawam Memberikan solusi dalam usaha merekonstruksikan ilmu
keislaman. pertama membangun filsafat ilmu atau epistomologi didasarkan
alquran, asssunah, dan tradisi pemikiran yang dikembangkan di masa lampau, kedua
membangun teori etika ilmu yang mendasari ilmuan berkarya, ketiga mengalihkan
ilmu dari orientasi menuju teosentris, keempat mendidikan ajaran islam
kepada calon ilmuwan, kelima aktif menciptakan karya-karya, keenam mengajarkan
ilmu umum di lembaga-lembaga islam tradisional.[24]
Keempat, Pencerahan dan
Kebangkitan Islam. Kajian kebangkita islam menurut hemat saya, (Dawan
Rahardjo,2012), dapat bercermin pada sejarah eropa. Kebangkitan eropa ini
terjadi pada tiga tahap. Pertama tahap penyerahan. Kedua diikuti
dengan masa Renaissance, berupa inovasi di bidang ilmu pengetahuan dan
kesenian. Ketiga tahap remormasi atau proses modernisasi.
Melalui konsep Islamisasi ilmu pengetahuan Al-faruqi membangun
kesadaran umat islam akan ketertinggalanya atas ilmu pegetahuan dan kebudayaan
Barat yang cenderung mengakibatkan pada krisis manusia. Maka dari situ menurut
Al-faruqi perlu melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan modern dan kemudian akan
merembes pada Islamisasi politik, ekonomi, sistem pemerintah dan pendidikan.[25]
KESIMPULAN
Singkat Saya sangat mendukumg pemikiran M. Damam Rahardjo, dan
berusaha meneruskan tujuan yang benar ingin mengebalikan jati diri Islam yang
Rahmatan Lilaalamiin. Pikiran-pikiran penulis dalam buku ini sangat menarik
bagaimana penulis mengurutkan dari permasalahan hingga menemukan solusi dari
masalah tersebut bahkan merinci. Lebih menariknya lagi penulis banyak mengutip
para tokoh-tokoh dari berbagai aspek dan dari masa ke masa. Ada yang kurang
menurut pandangan saya dalam buku ini yaitu dari segi mengulas sejarah dengan
singkat. Sejarah yang ditulis hanya sebatas saja.
Sekarang bukan waktunya umat islam masih menggarap konsep, metode,
tapi sekarang umat islam harus keluar dari paradigma sempit. Mengambil contoh
dari Eropa, Barat, yang perkembangan di berbagai aspeknya selalu meningkat.
Faktor terbesar umat islam memang masih berorentasi ke belakang, dan akhirat.
Sehingga takut berpikir luas dan memandang lebih luas lagi alam smesta ini.
Daftar Pustaka
Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan
Islam, Jakarta: Freedom Institute.
Nasution, H. 1985, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta:UI
Press.
Al-faruqi, Ismail Raji, 1982, Tauhid: Its Implication For
Thought and Life, Temple University: III.
Madjid ,Nurcholis, 2008, Islam, Doktrin dan Peradaban,
Jakarta: Paramadina.
H. E. Mulyasa, 2015, Revolusi Mental Dalam Pendidikan, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya Offset,
Budhi Munawar Rahman, 2016, Membela Kebebasan Beragama, Buku
ke-4, Jakarta: The Asia Foundation.
[1]Dawam
Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta:
Freedom Institute. Hal 18
[2]Dawam
Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta:
Freedom Institute.Hal 33
[3]Ibid, Hal
41
[4]Ibid, Hal
51
[5]Ibid, Hal
59
[6]Dawam Rahardjo,
2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom
Institute.Hal 66
[7]Budhi
Munawar Rahman, Membela Kebebasan Beragama, Buku ke-4, Jakarta: The Asia
Foundation, 2016. Hal 1419
[8]Dawam
Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta:
Freedom Institute. Hal 77
[9]Ibid, Hal
97
[10]Budhi
Munawar Rahman, Membela Kebebasan Beragama, Buku ke-4, Jakarta: The Asia
Foundation, 2016. Hal 1345
[11]Dawam
Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta:
Freedom Institute. Hal 104
[12]Dawam
Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta:
Freedom Institute.Hal 179
[13]Ibid,
Hal 202
[14]Ibid,
Hal 339
[15]Ibid,
Hal 211
[16]Dawam
Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta:
Freedom Institute.Hal 222
[17]Ibid,
Hal 225
[18]H. E.
Mulyasa, 2015, Revolusi Mental Dalam Pendidikan, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya Offset, Hal 25
[19]Dawam
Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta:
Freedom Institute. Hal 245
[20]Dawam
Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta:
Freedom Institute.Hal 253
[21]Ibid, Hal
281
[22]Nurcholis Madjid, Islam, Doktrin dan
Peradaban, Jakarta: Paramadina, 2008,Hal 199
[23]Harun
Nasution, 1985, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta:UI Press,
Hal 4
[24]Dawam
Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta:
Freedom Institute. Hal 317
[25]Ismail
Raji Al-faruqi, Tauhid: Its Implication For Thought and Life, (Temple
University: III, 1982), Hal 10

Komentar