Langsung ke konten utama

Islam Masa Depan


                        “Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam”
Oleh: Sirajudin


Pengantar
Dinamika Kebangkitan Islam dan Krisis Peradaban
Terlihat dalam buku Dawam Rahadjo ini bagaimana mengkritik perkembangan dunia Islam. ditata dengan semenarik mungkin diawali dengan pembahasan Krisis Peradaban Islam hinga dipenghujungnya memberikan solusi dalam setiap permasalahan. Wacana mengenai kebangkitan islam sebenarnya sudah terlihat dari dulu, hanya saja wacana itu hanya sebatas teori yang sampai saat ini belum terlihat kebangkitan Islam itu sendiri.
Masyarakat Islam harus menyadari ketertinggalanya atas kebangkitan islam. Isu-isu mengenai kebangkitan islam marak dikalangan umat islam sebagai wacana belaka. Menurut Dawam Jika peradaban islam dalam arena kemasyarakatan dan seni budaya itu telah mengalami krisis, maka di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pun peradaban islam mengahdapi jalan buntu. Sebab, hambatan dalam kebebasan yang sangat diperlukan oleh kerja kreatif dn inofatif.[1]
Dalam tulisan ini saya mencoba mengulas pikiran-pikiran Dawam Rahardjo dalam bukunya “Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam”. Menarik bagi saya ketika saya mengulas kembali pikiran-pikiran Dawam terkait kritikannya mengenai kebangkitan Islam. Saya berkeyakinan bahwa  Dawam merupakan seorang penggerak dalam hal kebangkitan islam. Beiau, lahir di Solo, 20 April 1942, menduduki jenjang pendidikan SD hingga SMA di  Kota Solo. Menyelesaikan Sarjana S1 Borah High School Amerika, S2 Universitas Gajah Mada Yogyakarta, S3 Instute Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Rektor di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta hinga sekarang, juga presiden IIIT Indonesia hinga sekarang, Ketua ICMI hingga sekarang. Karya-karya beliau diantaranya Perspektif Deklarasi Mekkah Menuu Ekonomi Islam (1995), Intelektual Intelegensia dan perilaku Politik Bangsa Risalah Cendekiawan Muslim (1993), Ensiklpedi Al-quran: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci (1996), Tantangan Indnesia Sebagai Bangsa, Esay-Esay Kritis Tentang Ekonomi, Sosial dan Politik (1999), Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial (1999), Paradigma Al-quran Metodelogi Tafsir dan Kritik Sosial (2005), Merayakan Kemajemukan, Kebebasan dan Kebangsaan (2010), Ekonomi Neo-Klasik dan Nasionalisme Reigius (2011)

Kritik Nalar Islamisme
Saya kira dalam bab ini Dawam mengungkapkan kritiknya terhadap konsep-konsep nalar kritis. Karna dalam bab ini Dawam mengarahkan dalam beberapa ranah, yakni: kritik nalar ideologi islam, politik islam, ekonomi islam, epistomologi islam, kebangkitan islam, dan budaya islam.
Pertama, kritik nalar ideologi. Dawam mengungkapkan bahwa gagasan mengenai ideologi mulai muncul di Eropa Barat dan Amerika Utara sejak abad ke-18 dan memuncak pada abad ke-19, sehingga abad itu disebut sebagai Abad Ideologi (The Age of Ideologi). Namun, hingga awal abad ke-20, dunia islam belum mengenal konsep ideologi.[2] Dawam juga mengungkapkan bahwa gagasan mengenai ideologi islamisme dari gerakan islam sendiri mulai muncul pada belahan kedua dasawarsa 1930-an. Tetapi wacana itu terbentuk negatif, yaitu dalam melawan gagasan sekularisme yang dirawarkan oleh soekarno.[3]
Inilah kenapa khususnya di indonesia ketika berbicara ideologi maka umat islam memecah belahkan ideologi masing-masing. Sehingga, satu sama lain saling merasa benar dan menganggap selainnya itu salah. Muncul perpecahan umat kebanyakan karna idelogi yang berbeda. Maka tidak heran ketika kita melihat realita di indonesia umat islam masih berbicara tentang ideologi dan itu diperdebatkan. Jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah berkembang diberbagai aspek. Dawam membagi dua mengenai ideologi. Pertama,ideologi yang bersifat universal dan berlaku di segala waktu dan tempat, misalnya sosialisme, kapitalisme, dan demokrasi. Kedua adalah ideologi yang diberlakukan oleh suatu bangsa tertentu.[4]
Kedua, kritik nalar politik islam. Banyak yang mengatakan bahwa islam tidak boleh ikut campur dalam urusan negara termasuk politik. Ini salah, islam sebagai agama rahmatan lilalamiin mengatur segala urusan yang berbau ibadat, muamalat, fikih, tasafus, pendidikan maupun dalam urusan negara dan politik. Maka fatal jadinya ketka agama tidak dilibatkan ke dalam urusan negara dan politik. Karna islam mengatur itu semua.
Menurut Dawam wacana politik islam di indonesia dalam bingkai islamisme atau fundamentalisme sebenranya baru dimulai pada bagisan kedua dasawarsa 1930-an, ketika terjadi polemik antara Soekarno di satu pihak, menawarkan gagasan sekularisme dengan mengambil contoh Turki yang sudah lebih dari satu dasawarsa telah mneghapus kekhalifahan dunia islam dan di ganti dengan model negara sekuler, dengan para penentangnya di lain pihak. Gagasan itu di tentang oleh dua pemimpin islam guru dan murid, yaitu: Ust. A. Hasan dan Muhammad Natsir.[5]

Dawam juga menambahkan bahwa persoalan yang terkandung dalam gerakan politik islam sebenarnya terletak pada pemahaman ideologi politik yang coraknya tradisional dan tidak mencerminkan kemajuan berpikir sesuai dengan kemajuan zaman.[6] Berbeda dengan Saiful Mujani yang juga mengatakan bahwa nilai-nilai islamis belum mampu diterjemahkan dalm kekuatan gerakan sosial dan organisasi politik di indonesia. Artinya sekularisme semakin mendapat tempat dan merasuk dalam kesadaran umat islam.[7]
Menurut Dawam sekularisme dan sekulariasi adalah kunci pemecahan masalah kegagalan politik islam dalam menemukan formanya yang sejalan dengan gagasan kebangsaan dan demokrasi di dunia  modern. Namun harus diingat bahwa sekularisasi bukan berarti marjinalisasi peranan agama di arena publik maupun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sebagaiman yang terjadi di Amerika. Sekularisasi justru membuka jalan bagi peranan agama yang bermanfaat di arena publik dan menjamin berlangsungnya kehidupan beragama secar bebas dan dami bagi setiap agama berdasarkan ha-hak asasi manusia. Di sini sekularisme adalah diferensiasi antara wilayah iman dan ilmu pengetahuan, serta antara agama dan politik atau agama dan negara.[8]
Ketiga, kritik nalar ekonomi islam. Dawam menambahkan Pengertian ekonomi disebut dengan istilah al-iqtishad, penggunaan istilah itu juga dilakukan oleh Abdullah Abd al-husein al-Tariki dalam buku yang telah di terjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan judul Ekonomi Islam: prinsip Dasar dan Tujuan (2004) di situ, ekonomi islam dalam terjemahan dari kata al-iqtishad al-islami. Istilah itu artinya kelurusan cara, keadilan atau keseimbangan. Artinya juga moderat, tidak boros dan tidak pula kikir.[9]Dengan demikian, al-iqtishad berarti cara yang lurus dalam pembelajaan dan penggunaan barang yang tidak boros dan tidak pula kikir. Dalam Al-quran terdapat petunjuk Allah agar orang itu tidak boros khususnya dalam konsumsi dan penggunaaan sumber daya alam, karena itu semua sudah ada ukuranya.
Menurut Ahmad Fadhil Lubis sistem ekonomi pasar maupun sistem ekonomi komando, disamping banyak memiliki banyak mazhab dan submazhabnya, kedua sistem itu tidk ada lagi yang murni. Masing-masing telah belajar dari kegagalan dan keberhasilan kedua belah pihak.[10]Kajian mengenai ilmu ekonomi menurut Dawam adalah kajian ilmiah, perlu diketahui dalam devinisi itutiga tahap proses, yaitu:(1) pokok persoalan realita dan sejarah;(2) bagaimana cara memahami dan mempelajari persoalan serta bagaimana pemecahanya; dan (3) hasil dan manfaat atau tujuan dari proses itu.[11]
Perubahan mindset masyarakat adalah suatu keniscayaan ketika nilai Islam diharapkan mampu untuk dijadikan jalan hidup atau mainstream ekonomi. Mengubah perilaku masyarakat menuju ekonomi Islam adalah target utama dalam pengembangan sistem kelembagaan, baik individual, perusahaan, mekanisme pasar maupun pemerintahan ataupun norma sosial.
Keempat, kritik nalar epitomoloi islam. Dawam mengatakan baru di sekitar tahun 2000-an ini, sejumlah sarjana agama membahasa masalah filsafat ilmu dalam sejumlah buku dan artikel di berbagai jurnal. Sebelumnya para sarjana agama itu membahas masalaha agama. Dalam pembahasan masalah pendidikan, mencuat isu sistem pendidikan islam yang dualistis, yakni antara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan umum. Sebenarnya kedua jenis ilmu itu itu telah di ajarkan di lembaga pendidikan, termasuk di pesantren dan madrasah. Bahkan ilmu pengetahuan umum juga telah diajarkan di Universitas Al-Azhar di Mesir.[12]
Dawam juga menambahkan bahwa kenyataan hidup menunjukan bahwa banyak hal-hal yang tidak ada petunjuknya dalam Al-quran maupun assunah. Misalnya masalah membangun negara, perekonomian, mengebangkan teknologi, menciptakan karya-karya seni. Bahkan, dibidang kesenian ini malahan banyak hambatan yang mencegah orang untuk berkarya. Misalnya dalam seni rupa, seni lukis, seni suara dan seni teater. Dala hal yang disebut terakhir ini, hambatan terdapat pada perempuan yang oleh pandangan fikih tertentu, suaranya saja dihukumi sebagai bagian dari aurat. Jika orang berpedoaman pada pandangan seperti ini, maka kesenian tidak akan berkembang.[13]
Kelima, kritik nalar kebangkitan islam. Dawam menegaskan bahwa Janganlah bermimpi mengenai kebangkitan Islam,jika tidak mampu memecahkan masalahkeilmuan dan pendidikan Islam.[14] Pendidikan merupakan hal yang utama yang diajarkan dalam islam. bagaimana islam memandang realita kehidpan yang saat ini sangat perlu dikhawatirkan. Ini salah satu faktor dalam kebangkita islam. benar apa yang diungkapkan oleh Dawam bahwa islam akan bangkit jika masalah pendidikan sudah diselesaikan.
Dawam menjelaskan bahwasanya Islam sebagai peradaban yang didukung oleh agama dan ilmu pengetahuan serta teknologi, tidak berkembang sebagaimana diharapkan. Ada beberapa faktor yang perlu dipikiran sebagai penyebebnya. Pertama serba cukup, karena kepercayaan ajaran islam itu telah lengkap dan sempurna, sehingga merasa tidak membutuhkan pengetahuan dari luar sebagai mana yang di cerminkan oleh pandangan Hizbut Tahrir. Kedua ketertutupan dunia islam yang takut kemasukan pengaruh dari luar, terutama Barat. Ketiga ketidak-beranian menggunakan akal merdeka mengembangkan ilmu pengetahuan dan terbelenggu semata-mata dengan teks wahyu sehingga tidak timbul pemikiran yang kritis, kreatif dan baru.[15]
Umat islam terbelenggu dalam kejumudan atau kejahilan, tidak pernah merasa dewasa dan tidak pernah tegar dalam berinteraksi dengan dunia luar, karena umat islam tidak punya kesanggupanuntuk mengakui keunggulan pihak luar, walaupun jelas-jelas lebih maju dan memimpin arah perkembangn dunia. Tapi, diam-diam umat islam belajar juga ilmu pengetahuan teknologi dari luar, tetapi tidak punya etos untuk mengebangkan sendiri. Karena ituDawam menegaskan agenda kebangkitan islam dewasa ini menghadapi jalan buntu. Tetapi harapan kebangkitan ini masih ada, yaitu melalui kebangkitan bangsa-bangsa muslim di Asia Tenggara.[16]
Keenam, kritik nalar budaya islam. Dalam bukunya, Islam and Cultural Accommodation of Sociol Change, Bassam Tibi, seorang intelektual Muslim Jerman keturunan Syria, menambil pengertian tentang agama dari antropolog Indonesianis Clifford Geertz, yang terkenal dengan bukunya The Religion of Java yang sudah menjadi klasik itu. Baginya, agama adalah sebuah sistem kebudayaan pada sekelompok manusia untuk memahami situasi sekelilingnya dan bertindak menurut sistem budaya itu, (Clifford Geertz, The Religion Of Java). Jika kebudayaan adalah suatu sistem nilai yang menghasilakan produk-produk budaya, maka kebudayaan yang berupa sistem nilai itu adalah sumber kreativitas dan penciptaan, sebatas kemampuan manusia yang bersangkutan.[17]
Pembangunan masyarakat dan bangsa yang dilakukan saat ini cenderung menerapkan prinsip-prinsip paham liberalisme yang tidak sesuai dan kontradiktif dengan nilai, budaya, dan krakter bangsa indonesia, sudah saatnya dikoreksi. Koreksi yang dilakukan tidak harus menghentikan proses reformasi yang sudah berjalan, tetapi dengan mencangkan revolusi mental, menciptakan paradigma, budaya politik, dan pendekatan nation building baru yang lebih manusiawi, sesuai dengan budaya nusantara, bersahaja dan berkesinambunngan.[18]

KEBANGKITAN ISLAM
Pertama, evolusi dan pola kebangkitan Islam. Abad ke-14 H. dicanangkn sebagai Abad kebangkitan Islam. pencangan itu memberi kesan bahwa wacana dan gerakan kebangkitan islam baru di mulai Abad ke-14 H. Padahal, gejala kebangkitan islam sudah mulai tampak pada awal Abad ke-20 M., ketika Jamaluddin al-Afghani menyerukan gagasan pan-islamamisme. Ketika itu , ia mengambil alih kalimat Karl Marx dalam seuanya, “Umat Islam seluruh Dunia, bersatulah.” Ia tidak secara spesifik menyebut bentuk dan wadah persatuan itu. Namun, dari retorika dan tindakan-tindaknya, maka dapat ditangkap bahwa yang dimaksud bersatu adalah bersatu melawan imperialisme Barat di seluruh Dunia Islam.[19]
Dawam juga menambahkan bahwa dewasa ini, setelah perempat Abad lebih sedikit dari abad ke-14 H yang dicanagkan sebagai abad kebangkitan islam menuju kejayaan mondial yang unggul, seperti yang dilihatkan festifal peradaban islam di London 1976, hingga kini belum ada tanda-tanda kebangkitannya. Sebenarnya tanda-tanda itu sudah muncul setelah krisis minyak 1974 dan terulang pada 1979, tapi pada dasawarsa 1980-an, dunia, termasuk dunia ketiga dan indonesia, mengalami resensi.[20]
Kedua, kebangkitan Islam ditinjau dari sudut kebudayaan. Dawam menjelaskan ada Enam nilai yang dapat disebut sebagai unsur atau bidang kebudayaan yang universal (cultural universal) adalah solidaritas dalam sistem kemasyarakatan, ilmu pengetahuan atau teori, ekonomi, kuasa, agama dan seni. Sebenarnya masih bisa diidenfikasi 4 lagi sistem yang belum disebut oleh takdir yaitu: bahasa, teknologi, hukum, dan militer. Namun sepuluh nilai atau bidang kebudayaan itu dapat diringkas enam saja. Bidang hukum dan milter merupakan bagian dari bidang kuasa, bidang teknologi dapat digabungkan dengan ilmu pengetahuan menjadi iptek, bidang bahasa dapat digabungkan dengan Iptek dan seni atau agama, mengingat bahasa mencerminkan bahasa mencerminkan kemampuan akal manusia dalam memahami dan menjelaskan segala sesuatu, baik yang kongkrit maupun abstrak.[21]
Nurcholis Madjid mengatakan bahwa pemahaman umat selama ini cenderung berorentasi akhirat dan bahkan defensif.[22] Inilah budaya umat islam cenderung memandang ke balakang. Sehingga tidak pernah terlintas dalam benaknya sebuah ide tentang kebangkitan Islam. kecendrungan ini juga yang membuat dampak umat islam berpikir sempit, hanya pada satu wilayah tidak melihat dan belajar dari wilayah yang lain.
Ketiga, Rekonstruksi Ilmu-ilmu Keislaman dan Kebangkitan Islam. Pak Harun Nasition berpandangan bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim terkesan berpandangan sempit. Kesan ini timbul dari salah pengertian tentang Islam. Kekeliruan paham itu terjadi karena kurikulum pendidikan agama yang banyak dipakai di indonesia ditekankan kepada pengajaran ibadat, fikih, tahwid, tafsir, hadis dan bahasa Arab. Oleh karena itu, menurut pak Harun islam di indonesia banyak dikenal hanya dari aspek ibadat, fikih dn tahwid saja itu pun biasanya hanya diajarakan menurut satu mazhab atau satu aliran saja.[23]
Dawam Memberikan solusi dalam usaha merekonstruksikan ilmu keislaman. pertama membangun filsafat ilmu atau epistomologi didasarkan alquran, asssunah, dan tradisi pemikiran yang dikembangkan di masa lampau, kedua membangun teori etika ilmu yang mendasari ilmuan berkarya, ketiga mengalihkan ilmu dari orientasi menuju teosentris, keempat mendidikan ajaran islam kepada calon ilmuwan, kelima aktif menciptakan karya-karya, keenam mengajarkan ilmu umum di lembaga-lembaga islam tradisional.[24]

Keempat, Pencerahan dan Kebangkitan Islam. Kajian kebangkita islam menurut hemat saya, (Dawan Rahardjo,2012), dapat bercermin pada sejarah eropa. Kebangkitan eropa ini terjadi pada tiga tahap. Pertama tahap penyerahan. Kedua diikuti dengan masa Renaissance, berupa inovasi di bidang ilmu pengetahuan dan kesenian. Ketiga tahap remormasi atau proses modernisasi.
Melalui konsep Islamisasi ilmu pengetahuan Al-faruqi membangun kesadaran umat islam akan ketertinggalanya atas ilmu pegetahuan dan kebudayaan Barat yang cenderung mengakibatkan pada krisis manusia. Maka dari situ menurut Al-faruqi perlu melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan modern dan kemudian akan merembes pada Islamisasi politik, ekonomi, sistem pemerintah dan pendidikan.[25]

KESIMPULAN
Singkat Saya sangat mendukumg pemikiran M. Damam Rahardjo, dan berusaha meneruskan tujuan yang benar ingin mengebalikan jati diri Islam yang Rahmatan Lilaalamiin. Pikiran-pikiran penulis dalam buku ini sangat menarik bagaimana penulis mengurutkan dari permasalahan hingga menemukan solusi dari masalah tersebut bahkan merinci. Lebih menariknya lagi penulis banyak mengutip para tokoh-tokoh dari berbagai aspek dan dari masa ke masa. Ada yang kurang menurut pandangan saya dalam buku ini yaitu dari segi mengulas sejarah dengan singkat. Sejarah yang ditulis hanya sebatas saja.
Sekarang bukan waktunya umat islam masih menggarap konsep, metode, tapi sekarang umat islam harus keluar dari paradigma sempit. Mengambil contoh dari Eropa, Barat, yang perkembangan di berbagai aspeknya selalu meningkat. Faktor terbesar umat islam memang masih berorentasi ke belakang, dan akhirat. Sehingga takut berpikir luas dan memandang lebih luas lagi alam smesta ini.








Daftar Pustaka
Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute.
Nasution, H. 1985, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta:UI Press.
Al-faruqi, Ismail Raji, 1982, Tauhid: Its Implication For Thought and Life, Temple University: III.
Madjid ,Nurcholis, 2008, Islam, Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina.
H. E. Mulyasa, 2015, Revolusi Mental Dalam Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset,
Budhi Munawar Rahman, 2016, Membela Kebebasan Beragama, Buku ke-4, Jakarta: The Asia Foundation.




[1]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute. Hal 18
[2]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute.Hal 33
[3]Ibid, Hal 41
[4]Ibid, Hal 51
[5]Ibid, Hal 59
[6]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute.Hal 66
[7]Budhi Munawar Rahman, Membela Kebebasan Beragama, Buku ke-4, Jakarta: The Asia Foundation, 2016. Hal 1419
[8]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute. Hal 77
[9]Ibid, Hal 97
[10]Budhi Munawar Rahman, Membela Kebebasan Beragama, Buku ke-4, Jakarta: The Asia Foundation, 2016. Hal 1345
[11]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute. Hal 104
[12]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute.Hal 179
[13]Ibid, Hal 202
[14]Ibid, Hal 339
[15]Ibid, Hal 211
[16]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute.Hal 222
[17]Ibid, Hal 225
[18]H. E. Mulyasa, 2015, Revolusi Mental Dalam Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, Hal 25
[19]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute. Hal 245
[20]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute.Hal 253
[21]Ibid, Hal 281
[22]Nurcholis Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 2008,Hal 199
[23]Harun Nasution, 1985, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta:UI Press, Hal 4
[24]Dawam Rahardjo, 2012, Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam, Jakarta: Freedom Institute. Hal 317
[25]Ismail Raji Al-faruqi, Tauhid: Its Implication For Thought and Life, (Temple University: III, 1982), Hal 10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu mahasiswa?

Apa itu Mahasiswa? Oleh: Sirajudin Mahasiswa merupak sosok yang ditunggu oleh bangsa ini, sosok yang mempunyai semangat juang yag tinggi, sosok yang menjadi pahlawan di tengah-tengah kericuhan negeri ini. Dengan itu sebutan mahasiswa merupakan sebuah sebutan yang emas di masyarakat karna mahasiswalah yang paling utama merespon terhadap peristwa dan memberikan solusi dari peristwa tersebut. Melihat keadaan negeri tercinta ini semakin memburuk maka di sinilah peran mahasisw yang paling penting untuk memberikan ide-ide cemerlang untuk negeri ini, untuk menjadi agen perubahan, untuk menjadi pahlawan negeri ini, untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Lantas apa yang kita lakukan sebagai mahasiswa untuk negeri ini.?ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk negeri ini. Yang pertama hilangkan permusuhan karna perbedaan diantara kita. Ini adalah masalah yang sering terjadi diantara mahasiswa yaitu merasa paling benar dan menganggap orang lain salah, padahal kita hidup b...

katanya waktu itu mahal

Waktu Terlalu Berharga Untuk Disiasiakan   Sirajudin / Tarjamah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Apa yang sudah kita siapkan untuk masa depan nanti ? A pakah kita sudah siap  takala kematian itu datang menjemput kita ? Apakah kita sudah menyiapkan bekal untuk masa depan? tak pernah kita sadari bahwa sungguh kematian itu datang dari arah yang tak di sangka-sangka dan dia datang tidak mengenal apa yang sedang kita lakuakan. Sungguh kita terlena dengan pertanyaan itu semua. Kita menganggapnya itu adalah masalah yang kecil padahal itu adalah masalah yang besar. Sungguh kita terlena dengan dunia yang fana ini dengan isinya. Y ang tak pernah kita sadari bahwa itu semua adalah sementara. Kita hidup di dunia ini seperti hal nya kita mampir di suatu tempat ketika dalam perjalanan jauh hanyalah mampir sebentar . Apa yang engkau banggakan ketika engkau berada di dunia yang hina ini.? B ukankah engkau melihat orang yang m eninggal tidak membawa apa-apa melainkan hanyala...