Langsung ke konten utama

Islam dan Negara


Sirajudin, Tarjamah UIN Jakarta.

Konflik antara agama dan negara yang terjadi akibat pengaburan batas-batas agama dan negara, sebab keduanya dianggap bersaing dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama, sehingga orang harus memilih salah satunya. Berkaca pada kasus penistaan agama di indonesia saya mencoba melihat dari berbagai aspek ataupun pandangan. Sehingga kita bisa mengetahui lebih dalam terjadinya kasus penistaan agama yang baru-baru kemarin terjadi yang sedang panas-panasnya dibahas. Bahkan di jadikan lahan berpolitikus oleh sebagian orang.

Harun Nasution menuturkan, teori Descartes dipengaruhi oleh berbagai pertentangan pemikiran filsafat pada zamannya. Pertentangan ini menyebabkan ia bersikap meragukan segala sesuatu. Dalam konteks ini hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu bahwa aku ragu-ragu (aku meragukan segala sesuatu). Sifat meragukan ini bukan khayalan, melainkan suatu kenyataan. Aku ragu-ragu, atau aku berpikir, dan oleh karena aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum). Memang menurut teori Descartes, apa saja yang dipikirkan bisa saja merupakan suatu khayalan, akan tetapi bahwa kegiatan berpikir bukanlah khayalan. Dalam hal ini “tiada seorangpun yang dapat menipu saya, bahwa saya berpikir, dan oleh karena itu di dalam hal berpikir ini saya tidak ragu-ragu, maka aku berada.”.

Pertautan antara keduanya tidak dengan mudah dapat dilakukan. Keduanya memiliki perbedaan mendasar sehingga upaya menyandingkan keduanya dalam satu ”kotak” tentu akan memicu beberapa persoalan, terutama terkait dengan benturan-benturan konseptual, metodologis dan ontologis antara agama dan negara. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah “menarik garis pemisah secara jelas sebagai penunjuk kontras keduanya. Langkah berikutnya, setelah perbedaan kedua bidang itu jelas, baru dapat dilakukan kontak. Langkah ini didorong oleh dorongan psikologis yang kuat bahwa bagaimanapun agama sangat berpengaruh terhadap perkembangan negara.

Berkaca pada sejarah Peradaban Islam (Sains) antara abad 8-12M kita dapat mengenal sejumlah figur intelektual muslim yang menguasai dua disiplin ilmu,  baik ilmu Agama maupun ilmu umum (sekalipun pada hakikatnya dalam pandangan Islam ilmu umum itu juga merupakan ilmu Agama, merupakan kalam tuhan yang kauniyah/ tersirat) sebut saja misalnya Ibn Miskawaih (320-412/ 932-1032),Ibn Sina (370-428/980-1037), al-Ghazali (450-505/ 1059-1111)Ibn Rusd, Ibn Thufail dan seterusya. Mereka adalah para figur intelektual  muslim yang memiliki kontribusi besar terhadap kemajuan-kemajuan dunia Barat modern sekarang ini.

Jika pada awalnya kajian-kajian ke-lslaman hanya berpusat pada Alquran, Hadis, Kalam, Fiqih dan Bahasa, maka pada periode berikutnya, setelah kemenangan Islam di berbagai wilayah, kajian tersebut berkembang dalam berbagai disiplin ilmu: fisika, kimia, kedokteran, astronomi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Kenyataan ini bisa dibuktikan pada masa kegemilangan/keemasan antara abad 8-15 M, dari Dinasti Abbasiyyah (750-1258 M) hingga jatunya Granada tahun 1492M.
Melihat kasus di Indonesia yang terjadi beberapa waktu lalu yaitu kasus penistaan agama yang oleh salah satu gubernur DKI Jakarta menafsirkan dalam surat Al-maidah ayat 55 bahwasanya orang-orang muslim jangan mau di bodohi ayat tersebut. Wajar pada saat itu kaum muslimin marah dan lansung menyampaikan inspirasi bahwa si pelaku harus ditangkap. Karna secara akal sehat orang mana yang mau di hina agamanya? Atau kepercayaanya?tentu tidak akan ada orang seperti itu, semua orang pasti akan marah kalau agamanya dihina atau kepercayaannya dihina.

Jika saya lihat dari kasus itu dalam aspek nilai-nilai demokrasi karna pada saat itu memang sedang dalam tahap kampanye Cagub dan Cawagub DKI Jakarta hal itu udah pasti salah karna berbenturan dengan nilai kebhinakaan tunggal ika apalagi sampai menghina seperti itu. Jika saya lihat dalam aspek nilai-nilai pancasila maka akan lebih jauh lagi karna dalam sila ketika dikatakan”persatuan Indonesia” bukan memecah belah. Jika saya lihat dalam aspek agama jelas tidak terima mau agama apapun, mau kepercayaan apapun.

Dilihat dari aspek manapun tetap itu adalah sesuatu yang merusak. Karna memang pada saat itu sedang dalam waktu kampanye wajar buat saya karna itu semua politik, tapi bukan saya memihak pada masalah itu. Sebenananya yang menjadi pemicu kalau menurut saya adalah media. Karna itu yang pertama kali berperan dalam suatu masalah.

Kembali pada masalah awal yaitu hubungan Negara dan agama dan bagaimana pemerintah berkomitmen terhadap itu. Pemerintah punya tugas yang mengatue Negara jadi sekiranya pemerintah harus punya komitmen terhadap relasi agama dan Negara. Dua hal ini tidak akan bisa dipisahkan karna agama punya peran penting terhadap Negara dan Negara pun punya wewenang untuk mengatur jadi dua hal ini saling bersinambungan. Lain halnya ketika dua hal ini dipisahkan dalam wilayah-wilayah masing-masing. Karna ada kalnya agama punya wilayah tertentu yang Negara tidak bisa mengambil alih padanya dan begitu pula dengan Negara punya wilayah tertentu yang agama tidak bisa diambil alih padanya.


Pemerintah harus benar-benar berkomitmen dalam mengatur agar nanti ketika mengambil sebuah keputusan tidak keluar dari rana agama dan tidak juga mengedepankan Negara. Indonesia lahir dari pancasila yang mempuyai hirarki yang satu sama lain saling bersinambungan dari sila ke satu sampai sila ke lima. Itulah sebab adanya perbedaan karna perbedaan itu fitrah lahir dari agama dan bagaimana Negara nantinya mengatur sedemikian perbedaan itu agar menjalakan nilai-nilai kebersamaan itulah pancasila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu mahasiswa?

Apa itu Mahasiswa? Oleh: Sirajudin Mahasiswa merupak sosok yang ditunggu oleh bangsa ini, sosok yang mempunyai semangat juang yag tinggi, sosok yang menjadi pahlawan di tengah-tengah kericuhan negeri ini. Dengan itu sebutan mahasiswa merupakan sebuah sebutan yang emas di masyarakat karna mahasiswalah yang paling utama merespon terhadap peristwa dan memberikan solusi dari peristwa tersebut. Melihat keadaan negeri tercinta ini semakin memburuk maka di sinilah peran mahasisw yang paling penting untuk memberikan ide-ide cemerlang untuk negeri ini, untuk menjadi agen perubahan, untuk menjadi pahlawan negeri ini, untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Lantas apa yang kita lakukan sebagai mahasiswa untuk negeri ini.?ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk negeri ini. Yang pertama hilangkan permusuhan karna perbedaan diantara kita. Ini adalah masalah yang sering terjadi diantara mahasiswa yaitu merasa paling benar dan menganggap orang lain salah, padahal kita hidup b...

Islam Masa Depan

                        “Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam” Oleh: Sirajudin Pengantar Dinamika Kebangkitan Islam dan Krisis Peradaban Terlihat dalam buku Dawam Rahadjo ini bagaimana mengkritik perkembangan dunia Islam. ditata dengan semenarik mungkin diawali dengan pembahasan Krisis Peradaban Islam hinga dipenghujungnya memberikan solusi dalam setiap permasalahan. Wacana mengenai kebangkitan islam sebenarnya sudah terlihat dari dulu, hanya saja wacana itu hanya sebatas teori yang sampai saat ini belum terlihat kebangkitan Islam itu sendiri. Masyarakat Islam harus menyadari ketertinggalanya atas kebangkitan islam. Isu-isu mengenai kebangkitan islam marak dikalangan umat islam sebagai wacana belaka. Menurut Dawam Jika peradaban islam dalam arena kemasyarakatan dan seni budaya itu telah mengalami krisis, maka di bidang ilmu pengetahuan dan teknolog...

katanya waktu itu mahal

Waktu Terlalu Berharga Untuk Disiasiakan   Sirajudin / Tarjamah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Apa yang sudah kita siapkan untuk masa depan nanti ? A pakah kita sudah siap  takala kematian itu datang menjemput kita ? Apakah kita sudah menyiapkan bekal untuk masa depan? tak pernah kita sadari bahwa sungguh kematian itu datang dari arah yang tak di sangka-sangka dan dia datang tidak mengenal apa yang sedang kita lakuakan. Sungguh kita terlena dengan pertanyaan itu semua. Kita menganggapnya itu adalah masalah yang kecil padahal itu adalah masalah yang besar. Sungguh kita terlena dengan dunia yang fana ini dengan isinya. Y ang tak pernah kita sadari bahwa itu semua adalah sementara. Kita hidup di dunia ini seperti hal nya kita mampir di suatu tempat ketika dalam perjalanan jauh hanyalah mampir sebentar . Apa yang engkau banggakan ketika engkau berada di dunia yang hina ini.? B ukankah engkau melihat orang yang m eninggal tidak membawa apa-apa melainkan hanyala...